ISMINATUN

Dilahirkan di Klaten, Jawa Tengah. Pendidikan SD sampai SPG ditempuh di kotanya. D2 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di FBS IKIP Semarang lulu...

Selengkapnya
MENGUNGSI

MENGUNGSI

Hari kedua puluh empat Ramadan ini saya benar-benar mengungsi dari rumah. Memang, kenapa? Biasanya mengungsi dilakukan oleh orang-orang yang tinggal di daerah tidak aman. Sempat kubuka kamus juga bahwa mengungsi bermakna “pergi menghindarkan (menyingkirkan) diri dari bahaya atau menyelamatan dri (ke tempat yang dirasa aman). Saat kubuka kamus inilah saya merasa tepat menggunakan kata mengungsi bagi diri ini.

Mengapa mengungsi? Inilah pasalnya. Di rumah sendiri yang biasanya terasa nyaman, kini tidak lagi. Loh, kenapa? Bukankah slogan kita baitii jannatii (rumahku syurgaku)? Tapi ini tidak berlaku sementara ini. Semoga hanya sementara saja dan akan segera kembali seperti semula.

Memang, ada prahara apa? Keributan rumah tangga? Na’udzubillah min zalik. Ribut dengan tetangga? Insyaallah ndak juga. Terus apa masalahnya? Sebenarnya ini perkara sepele. Namun, inilah contoh dalam bahasa Jawa, “sepele dadi gawe” (perkara remeh timbulkan masalah).

Terus apa sumber masalahnya? Debu. Perkara sepele bukan? Barang yang sangat kecil bahkan tak tampak oleh mata telanjang jika hanya satu butir debu. Namun, inilah akar permasalahannya.

Debu beterbangan di sekitar rumah. Kok bisa? Nah itulah. Rumah sebelah yang dibeli oleh keluarga yang tinggal di Kalimantan, sedang direnovasi. Sejak awal Ramadan mulai renov. Puncak debunya hari-hari ini. Pemotongan keramik yang dilakukan oleh tukang batu persis di samping kamarku. Debu beterbangan ke mana-mana, terutama ke kamar. Waduh, rasanya sumpek tinggal di kamar yang biasanya terasa nyaman.

Karena hal itulah dua hari ini terpaksa mengungsi. Sepulang sekolah, hari kemarin mengungsi ke tempat kerja suami. Meski ada ruang khusus tetapi tak nyamanlah jika setiap hari aku mengungsi di ruangnya. Dikiranya tak percaya pada suami yang kerja dan harus diikuti.

Perpustakaan pasca merupakan alternatif kedua pengungisanku. Alhamdulillah, terasa nyaman. Suasana sepi, karena tak banyak mahasiswa yang berkunjung hari ini. Seperti menjadi pemilik tunggal perpustakaan pada awalnya. Berikutnya satu dua mahasiswa datang enyelesaikan tugas/tesisinya. Sayangnya satu. Koneksi internet sedang terganggu.

Kembali masalah renov rumah tetangga, apakah saya tidak suka? Oh, tentu suka. Ada tetangga yang merenovasi rumahnya agar terasa lebih indah. Tidak bolehlah kita melarang tetangga membangun rumahnya. Hanya momennya yang tidak tepat. Mulai merenov tepat di awal Ramadan. Saat itu, diri ini ada gejala batuk. Batuk-batuk kecil sih. Periksa yang kedua dan ketiga belum sembuh juga. Sampai dokternya bilang, “Mungkin ibu alergi ya. Debu, barangkali?” Sang dokter keluarga menebak karena diberi obat tiga kali belum sembuh juga. Waktu itu saya menepisnya.

Baru semalam kusadari bahwa debu tampaknya menjadi pemicu batuk yang tak kunjung sembuh. Apapun pemicunya, diri ini tetap berharap segera disembuhkan oleh Yang Punya Segalanya. Bismillah. Semoga pengungsian kali ini adalah pengungsian yang membawa hikmah.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Waduh sabar ya bu. Semoga dapat pahala ramadhan. Gws yah.

09 Jun
Balas

Syafakillah...ibu. Mudah-mudahan pengungsian ini membawa hikmah. Barakallah...ibu.

09 Jun
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali